Cahaya!? Hanya cahaya
Manaqib syekh Hisyam Al kabbani
Bagi kalangan torikoh siapa yang tidak kenal beliau, lewat dakwahnya di Amerika Serikat pada awal abad-20 an dengan gaya yang moderat dan fokus pada penyucian jiwa,cinta rosul,dan pentingnya dzikir.
Lahir di Lebanon pada Januari 1945 dan salah satu keluarga Islam yang tertua di Beirut dan keturunan Rasulullah Saw dari jalur ayah dan ibunya,di bidang akademik pun beliau tidak kalah hebat, beliau menguasai beberapa bahasa dan dialek arab, selain berbahasa beliau juga memperoleh gelar sarjana kimia dari American University of Beirut dan melanjutkan studi kedokteran di Louvain, Belgia.Dan juga di bidang agama pastinya dalam Hukum Islam (Syariah) di Damaskus, Suriah, belum lagi karya tulis dan bukunya yang luar biasa dan di akui secara internasional.
Karya tulis syekh Hisyam Al kabbani meliputi
- The Naqshbandi Sufi Way: History and Guidebook of the Saints of the Golden Chain Buku oleh Muhammad Hisham Kabbani,1995
- Classical Islam and the Naqshbandi Sufi tradition Buku oleh Muhammad Hisham Kabbani
- Angels Unveiled: A Sufi Perspective Buku oleh Muhammad Hisham Kabbani,1995
- The Approach of Armageddon? An Islamic Perspective : a Chronicle of Scientific Breakthroughs and World Events that Occur During the Last Days, as Foretold by Prophet Muhammad Buku oleh Muhammad Hisham Kabbani,2003
Torikoh Maulana Syaikh Hisyam sendiri yaitu Thariqat Naqsyabandi.wewenang untuk memimpin torikoh tersebut diberikan oleh gurunya sekaligus mertua Maulana Syaikh Hisyam Syaikh Nadzim al-Haqqani.
Atas perintah guru beliau juga menjadi awal Maulana Syaikh Hisyam melangkahkan kakinya ke negeri paman sam yang sebelumnya beliau cukup lama tinggal di Saudi Arabia sebagai dokter spesialis dan memperdalam ilmu tasawuf nya lewat beberapa Mursyid.
Pada tahun 1990 Maulana Syaikh Hisyam mulai menebar ajaran sufisme di Amerika,Pada saat itu juga di Amerika sedang menguatnya salafisme ekstrimis, dalam satu kesempatan beliau mengatakan sekitar 2000 masjid di AS dan 80% diantaranya dikelola oleh kelompok ekstrimis
Kondisi Amerika Saat syekh Hisyam Kabbani Berdakwah
Ketika Maulana Syaikh Hisham Kabbani memulai aktivitas dakwahnya di Amerika Serikat pada awal dekade 1990-an, umat Islam di negeri itu sedang berada dalam fase pertumbuhan yang sangat dinamis. Gelombang imigrasi dari Timur Tengah, Asia Selatan, dan Afrika sejak era 1970–80-an telah membentuk komunitas Muslim yang kian besar serta beragam, baik dari sisi etnis, budaya, maupun latar belakang pendidikan.
Masjid-masjid mulai bermunculan hampir di setiap kota besar. Banyak yang memanfaatkan bangunan lama seperti gudang, aula, atau bekas rumah ibadah agama lain yang kemudian direnovasi menjadi pusat aktivitas umat. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat salat, tetapi juga sebagai ruang pendidikan, kajian agama, perpustakaan kecil, dan pusat kegiatan sosial.
Atmosfer Dakwah dan Perbedaan Paham
Seiring dengan pertumbuhan tersebut, muncul perbedaan cara memandang Islam di kalangan umat Muslim Amerika. Sebagian kelompok membawa pendekatan spiritual dan tasawuf yang menekankan penyucian jiwa, akhlak, dan dialog lintas budaya. Namun di sisi lain, berkembang pula gerakan keagamaan yang memilih pendekatan tekstual dan formalistik, dengan interpretasi agama yang relatif kaku serta minim ruang toleransi terhadap praktik yang berbeda.
Situasi ini memunculkan perdebatan internal antarumat Islam. Ada kekhawatiran bahwa sebagian dakwah mulai kehilangan pesan rahmat dan kelembutan karena lebih menitikberatkan pada penghakiman serta klaim kebenaran eksklusif. Di tengah kondisi inilah Hisham Kabbani tampil membawa pesan moderasi melalui spiritualitas Islam yang damai dan inklusif.
Tantangan Sosial dan Stigma
Pada dekade 1990-an, situasi global yang diwarnai konflik Timur Tengah dan Perang Teluk ikut menciptakan kecurigaan publik Amerika terhadap komunitas Muslim. Media internasional sering mengaitkan Islam dengan kekerasan, sehingga muncul sentimen negatif di kalangan masyarakat. Beberapa laporan mencatat adanya aksi vandalisme terhadap masjid serta perlakuan diskriminatif terhadap warga Muslim.
Walau pemerintah Amerika secara resmi menyerukan perlindungan kebebasan beragama dan menentang segala bentuk kebencian rasial, komunitas Muslim tetap merasakan tantangan sosial yang berat. Upaya dialog lintas iman mulai diperkuat, namun stigma belum sepenuhnya menghilang. Lingkungan sosial semacam inilah yang menjadi panggung awal dakwah Kabbani di Amerika.
Peran Dakwah Spiritual
Maulana Syaikh Hisham Kabbani mengedepankan pendekatan bahwa wajah Islam di Barat seharusnya tercermin melalui akhlak, bukan sekadar retorika. Ia menekankan pentingnya spiritualitas – seperti dzikir, kesadaran batin, dan pembinaan moral – sebagai inti ajaran Islam yang mengedepankan cinta serta kedamaian.
Pendekatan ini ditujukan untuk membangun jembatan antara umat Islam dan masyarakat luas. Alih-alih terlibat dalam konflik ideologis, dakwah diarahkan pada keteladanan hidup, kerja sosial, serta dialog kemanusiaan. Menurut pandangannya, inilah cara paling efektif menampilkan nilai Islam yang sejati: sebagai agama yang menenangkan, bukan menakutkan.
Relevansi dengan Zaman Sekarang
Sejarah dakwah Kabbani di Amerika menunjukkan bahwa penyebaran nilai spiritual selalu berjalan berdampingan dengan dinamika sosial. Komunitas Muslim kala itu berada di persimpangan antara keterbukaan dan eksklusivisme. Pelajaran tersebut tetap relevan hingga kini: Islam akan lebih mudah diterima ketika disampaikan lewat akhlak dan keteladanan, bukan perdebatan yang keras dan penuh sekat.
Penutup
Menengok kembali kondisi Amerika saat Hisham Kabbani berdakwah memberi gambaran bahwa cahaya dakwah sejati tidak lahir dari pertentangan, melainkan dari kesabaran, dialog, dan kehangatan spiritual.
Sebagaimana judul tulisan ini, "Cahaya Hanya Cahaya", dakwah adalah tentang menghadirkan terang: bukan untuk menyilaukan atau menghakimi, tetapi untuk menuntun banyak jiwa menuju ketenangan dan kedamaian.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar